Pages

Senin, 23 Juni 2014

Kisah Al-Balkhi dan burung


            Dikisahkan, Al-Balkhi adalah seorang yang shaleh. Suatu hari ia hendak pergi berdagang. Sebelum itu ia berpamitan kepada sahabat karibnya yang terkenal zuhud, yaitu Ibrahim bin adham.

             Tak berapa lama setelah pergi, ada kabar bahwa ia sudah kembali lagi. Ibrahim bin adham menjadi heran, dan ketika di masjid ia menanyakan kepada Al-Balkhi kenapa ia begitu cepat kembali.

            Al –Balkhi menjawab “ketika diperjalanan aku melihat suatu keanehan

. ketika sedang beristirahat aku melihat seekor burung yang pincang dan buta. Aku bertanya dalam hati, bagaimana mungkin burung yang pincang dan buta itu bisa bertahan hidup sementara ia jauh dari teman2nya. Seharian penuh aku memperhatikannya dan ternyata ia tak pernah kekurangan makanan karena berulang kali dikirimi makanan oleh temannya yang sehat .          
            Itu semua membuatku merasa cukup untuk menarik kesimpulan bahwa sang pemberi riski telah memberi  karunia kepada seekor burung yang pincang lagi buta dan jauh dari teman2nya. Dan dengan kemudahannya Ia telah mencukupkan rizki bagi burung itu. Kalau begitu dalam keyakinanku tentu Dia akan mencukupi  rizki ku meskipun aku tidak bekerja…! Kemudian aku putuskan untuk pulang saat itu juga.”

            Mendengar perkatan Al-Balkhi, Ibrahim bin Adham segera menanggapi “ wahai sahabatku, mengapa serendah itu pemikiranmu ? kau rela menyamakan derajatmu dengan seekor burung yang pincang lagi buta ? mengapa kau mengikhlaskan dirimu untuk hidup atas belas kasih dan bantuan makhluk lain ? mengapa engkau tidak mencontoh prilaku burung yang satu lagi, yang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dan kebutuhan sahabatnya yang tidak mampu bekerja ! apakah engkau tidak tahu bahwa tangan diatas itu lebih baik dari pada tangan dibawah ?

            Mendengar semua penjelasan dari Ibrahim bin Adham, maka Al-Balkhi sadar akan kekhilafannya, dan berkata “ wahai Ibrahim , ternyata engkaulah guru kami yang baik.” Kemudian ia mohon diri untuk berangkat melanjutkan usaha dagangannya. (Sabili No. 19 th.IX)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar